http//www.manahilkhair.com

special for AiLL My son n Muhar my wife

Selasa, 10 Agustus 2010

Tanda dan gejala kehamilan normal

Tanda dan gejala kehamilan normal

A. Tanda Presumtif

1. Berhentinya Menstruasi (Amenorea)

Pada seorang wanita sehat yang sudah mengalami menstruasi spontan, teratur dan dapat diperkirakan.jika dengan penghentian mendadak menstruasinya sangat mendukung terjadinya kehamilan.

2. Mual dan Muntah (Nause and Vomiting)

Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan hingga akhir triwulan pertama, karena sering terjadi pada pagi hari (morning sicness).

3. Perubahan pada Payudara

Payudara membesar,tegang dan sedikit nyeri yang disebabkan oleh adanya pengaruh hormon yaitu estrogen dan progesteron yang merangsang duktus dan alveoli payudara.

4. Meningkatnya pigmentasi kulit

Meningkatnya pigmentasi kulit ini dipengaruhi oleh hormon kortikosteroid plasenta.Dijumpai dimuka (cloosma gravidarum), areola, leher, dan dinding perut (linea nigra).

5. Letih (Fatique)

Mudah letih adalah ciri kehamilan dini yang sering terjadi dan memberikan ciri diagnostik yang berharga.

6. Gangguan Kencing

Selama TM-1 kehamilan, uterus yang sedang membesar dapat mendesak kandung kencing sehingga dapat menyebabkan sering kencing.

7. Ngidam Makanan

Merasa sangat ingin menikmati makanan tertentu, biasanya buah-buahan yang rasanya asam.

8. Sakit Kepala

Hal ini sering disebabkan oleh adanya pengaruh hormon,dan dapat diatasi dengan teknik relaksasi, istirahat, atau mandi air hangat.

B.Bukti Kemungkinan Kehamilan

1. Pembesaran Abdomen

Setelah 12 minggu kehamilan, uterus biasanya dapat diraba melalui dinding abdomen, tepat diatas simfisis. Kemudian uterus secara bertahap bertambah besar sampai akhir kehamilan. Umumnya pembesaran abdomen selama usia subur pada wanita secara kuat mengesahkan kehamilan.

2. Perubahan Ukuran, Bentuk dan Konsistensi Uterus

Pada permukaan bimual korpus uteri teraba liat dan elastis dan kadang-kadang menjadi sangat lunak.

3. Perubahan pada Cerviks

Pada kehamilan 6-8 minggu, cervik menjadi sangat lunak. Konsistensi jaringan cervik lebih mirip dengan konsistensi bibir pada mulut dari pada cartilago hidung,seperti pada wanita yang sedang tidak hamil.

4. Kontraksi Braxton Hicks

Selama kehimilan uterus mengalami kontraksi – kontraksi yang dapat diraba,biasanya tanpa nyeri dengan interval yang teratur mulai dari kehamilan dini. Kontraksi – kontraksi ini dapat bertambah jumlah dan amplitudonya kalau uterus dimasase.

5. Tanda Chadwick

Selama kehamilan, mukosa vagina sering kelihatan gelap merah kebiruan atau merah muda.

6. Teraba Ballotement

Mendekati pertengahan kehamilan, Volume janin masih kecil dibandingkan dengan volume cairan amnionnya. Akibatnya, tekanan mendadak yang dikenakan pada uterus dapat menyebabkan janinnya tenggelam dalam cairan amnion dan kemudian kembali keposisi semula.

C. Tanda Positif Kehamilan

1. Identifikasi Kegiatan Jantung Janin

Mendengarkan atau menemukan denyut jantung janin menjamin diagnosa kehamilan. Kontraksi jantung janin dapat diidentifikasi dengan auskultasi menggunakan fetoskop dengan prinsip doppler ultrasonik dan dengan menggunakan sonografi. Denyut jantung janin dapat dideteksi setelah 17 minggu gestasi. Dalam kondisi normal denyut jantung janin berkisar dari 120 sampai 160 denyut semenit dan terdengar sebagai sebuah bunyi ganda mirip detikan jam dibawah bantal.

2. Persepsi Gerakkan Janin

Tanda positif kehamilan kedua adalah adanya gerakan – gerakan janin dalam pemeriksaan. Setelah kehamilan 20 minggu, gerakan janin dapat dirasakan pada interval waktu yang tidak tentu, dengan meletakkan tangan pemeriksa pada abdomen pada wanita tersebut.

3. Terlihat tulang – tulang janin dalam fhoto rontgen.

Sabtu, 07 Agustus 2010

PEMILUKADA

PEMILUKADA sama dengan zionis israel... sangat menakutkan bagi kaum PNS krn dipaksa dgn intimidasi utk memilih salah satu calon sehingga sendi-sendi profesional birokrasi didaerah hilang yg tinggal hanyalah proporsional dari kontribusi perjuangan pemenang pemilukada, sementara yg kalah akan menjadi termarginalkan hanya krn mengikuti hati nurani atau mgkn krn calon lain adalah saudaranya... Jadi DIMANA LETAK KEADILANNYA???. jadi mgkn akan lebih bijak klo penentuan pimpinan daerah dikembalikan lagi ke DEWAN spy birokrasi dapat berjalan bukankah undang-undangx jelas klo PNS dilarang berpolitik...tp klo spt ini susah kita meramalkan sampai kapan negara ini akan bertahan... klo pengambil kebijakan bukan lagi dari background pendidikan dan keahlian melainkan karena kedekatan emosional dengan peguasa DIDAERAH...oleh karena itu masihkah sistem ini akan kita pertahankan???

Sabtu, 17 Juli 2010

OSPEK DAN MANFAATNYA

Bulan ini adalah saat di mana para mahasiswa baru di banyak kampus mulai merinding hebat: Ospek sudah dekat, GAWWAT. Orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) memang identik dengan perploncoan, padahal tidak selalu demikian halnya. Apapun, telah banyak kritik dan penentangan dari masyarakat. Ada banyak yang mengajukan argumen tentang mengapa ospek perploncoan harus dihapuskan. Nah, tulisan saya berikut adalah tentang mengapa ospek perploncoan masih terus lestari hingga sekarang dan juga tentang pemikiran saya mengapa pengondisian keras masih dibutuhkan.

Bagi Anda yang sudah berkutat lama dengan issue ospek dan pengkaderan massal mahasiswa baru, mustinya pertanyaan berikut sudah tak asing:

Mengapa sih ospek perploncoan susah dihapuskan? Apa yang membuat aktivitas ini begitu berharga sehingga segala upaya yang dilakukan pihak rektorat untuk menghapusnya seringkali berakhir dengan keberatan luar biasa dan kegagalan?

Sesuai dengan namanya, apakah tujuan awal dari Ospek adalah untuk membantu mahasiswa baru mengenal program studi dan kampusnya? Iya, memang. Tapi bukan itu yang jadi pertimbangan kenapa perploncoan menjadi bagian lekat darinya. Dalam maksud saya menawarkan alternatif atau modifikasi dari model ospek yang ada, saya merasa akan lebih adil kiranya untuk terlebih dahulu menilik baik-baik maksud dan logika pembentukan budaya perploncoan ini. Jangan hanya mencela tanpa berusaha memahami, karena di balik aktivitas yang unik ini pasti ada motif baik yang bisa kita temukan. Tidak mungkin perploncoan bisa menjadi budaya bila bukan karena kemanfaatan positif yang bisa dihasilkan darinya.

474028840 225f33cf73 b Tinjauan Kritis Ospek Perploncoan Mahasiswa Baru
Senior yg melakukan ospek seperti ini mustinya punya tujuan baik. Sekarang tinggal kita telusuri lagi bagaimana sih kok bisa perploncoan yang kayak gini bisa dibilang punya manfaat positif. [foto diambil dari koleksi mas Dhana]


Perlu kita ketahui bahwa fenomena Ospek dengan perploncoan ini juga terjadi di negara-negara lain (silahkan googling dg keyword initiation ceremonies). Konsep Ospek Perploncoan sudah dikenal sejak lama. Suku Thonga dari Afrika Selatan adalah salah satu suku tertua yang masih memelihara tradisi perploncoan untuk anak lelaki yang ingin mendapat pengakuan sebagai seorang lelaki dewasa.

Ketika seorang bocah telah berusia antara 10 hingga 16 tahun, dia dikirim oleh orang tuanya di “curcumcision school” yang diselenggarakan tiap 4 atau 5 tahun sekali. Ritual inisiasi ini dimulai dengan berlarinya setiap bocah dalam garis panjang yang di sana telah berbaris para lelaki dewasa yang akan memukuli mereka dengan tongkat kayu di sepanjang perjalanan. Di akhir perjalanan, baju sang bocah akan dilucuti dan rambutnya dicukur habis. Dia lalu harus menjalani tiga bulan masa inisiasi untuk menjalani enam ujian utama: dipukuli (oleh lelaki dewasa yang telah dilantik), bertahan dalam cuaca dingin tanpa baju dan selimut, kehausan, makan makanan yg sungguh tak enak & layak, dihukum (semisal dg meremukkan jari ketika ketahuan melanggar aturan), dan terancam tewas selama menjalani ritual. Semua ini mengingatkan saya pada cerita di film 300! di mana pemuda Spartan harus menjalani masa2 dengan ritual inisiasi yang mirip dengan suku Thonga ini.
spartan ospek perploncoan trial
Ospek perploncoan suku tribal dan spartan memang amat keras, namun seluruh aktivitas perploncoan mereka relevan dengan untuk apa mereka dimaksudkan hidup; yakni petarung untuk berperang.
300 movie03 Tinjauan Kritis Ospek Perploncoan Mahasiswa Baru

Memang aneh, tapi perploncoan modern juga memiliki enam unsur yang sama dengan ospek di tribal world; mulai dari pemukulan, exposure pada dingin, siksaan haus, makan makanan yang memuakkan, hukuman, hingga ancaman kematian. Seperti ospek yang dilakukan di salah satu kampus ternama di Bandung, di sana mahasiswa baru diinjak-injak senior secara beramai-ramai, long march di gunung dalam keadaan kurang makan, kurang minum, dan tidur pun di atas pohon. Sementara di kampus lain perploncoan di kampus lain di Jawa Barat -seperti yang kita tahu- telah mengakibatkan kematian dari salah satu prajanya.

Sabtu, 12 Juni 2010

PILKADA MUNA

Raha 12 Juni 2010
Meski KPU Kabupaten Muna belum menetapkan hasil final Pilkada yang digelar pada tanggal 10 juni 2010 kemarin, namun hampir bisa dipastikan bahwa Pasangan yang diusung PAN, PDI dan DEMOKRAT (DAMAI) yang akan keluar sebagai pemenang.

Kemenangan DAMAI tersebut berdasarkan hasil quick count atau penghitungan cepat Jaringan Survei Indonesia dan diperkuat dengan rekapan via Fax DATA REKAPAN PPK (C.1) utk 33 Kecamatan di kabupaten Muna pada Sabtu tgl 12 Juni 2010 jam 21:51 WIT malam ini "untuk sementara DAMAI unggul dgn perolehan suara 47.324 (36,04%) persen.
Kabupaten Muna terdiri dari 33 kecamatan dan 237 desa, dari total 33 kecamatan itu ,DAMAI sudah mengungguli.

“Sebelumnya, Djohan Boy telah mengadakan jumpa pers di Galampano 11 juni kemarin dan memprediksikan kemenangan Rusman Emba - P haridin atau yang akrab disebut RAMAH itu"."sehingga menimbulkan keresahan masyarakat akibat timbulnya saling klaim-mengklaim kemenangan di antara dua kubu tersebut".

Kemenangan DAMAI pada Pilkada Muna sebelumnya tidak diprediksi" bahkan Lembaga Survei Independent (LSI) menyatakan bahwa pasangan Rusman Emba - P.Haridin RAMAH memiliki popularitas yang tinggi berbanding pasangan DAMAI, namun survey itu meleset sama sekali dari hasil yang ada sekarang ini.
.
“Sekarang, tugas kita adalah menunggu hasil resmi dari KPU setempat sambil terus mengawasinya. Saya harap, semuanya berjalan baik dan lancar,”.

Rabu, 13 Januari 2010

ADDISON' DESEASE

ADDISON’S DISEASE
A. DEFINISI
Penyakit Addison atau lebih dikenal dengan nama Addison’s Disease adalah suatu hipofungsi dari adrenal yang timbul secara spontan dan berangsur-angsur, dimana ketidakmemadaian adrenal, dapat menjadi penyakit yang mengancam jiwa.
B. ETIOLOGI
Dapat dikelompokan dalam 3 kategori utama :
1. Dysgenesis adrenal : Umumnya terjadi sejak masa neonatal atau masa bayi, misalnya dikenal dengan AHC (Adrenal Hipoplasia Adrenal).
2. Kerusakan adrenal : Terjadi infeksi, hemorrhage, metastase adrenal, dan biasanya terjadi pada anak-anak yang lebih besar yang sering kali muncul sebagai bagian dari Syndrome Polyglandular Autoimmune (APS), Kalau pada anak laki-laki Adrenoleukodystrophy yaitu gangguan yang berkaitan dengan DAX-1 sudah sejak lama menjadi penanda yang semakin sering dikenali. Sementara pada pria dewasa kejadian infeksi dan kegagalan adrenal metastatic juga semakin meningkat.
3. Kerusakan steroidogenesis : Dimana terjadi defisiensi enzim dalam metabolisme kolesterol, misalnya pada Sindrome Smith-Lemli-Opitz (SMOS).
C. PATHOFISIOLOGI
D. MANIFESTASI KLINIK
Kekurangan adrenal dapat terjadi dapat menunjukan gejala klinik sebagai berikut :
• Lemah, cepat lelah sampai susah bicara
• Mual, muntah terus menerus sampai diarhe
• Anorexia
• Kelemahan otot, kelelahan
• Hipotensi
• Berat badan yang menurun
• Gangguan gastrointestinal
• Gejala-gejala psikis seperti : gugup, bahkan dapat sampai depresi
• Fungsi seks menurun, pada wanita menimbulkan frigiditas dan gangguan haid, pada pria dapat terjadi impotensia.
•
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Limfositosis dan eosinofilia ( > 400/mm3)
2. Penurunan kadar natrium dan klorida dalam darah. Ratio Na/K menurun sampai 20 ( normal 30)
3. Hiperkalemia
4. Kadar kortisol plasma menurun dengan tanpa respons pada pemberian ACTH secara IM (primer) atau ACTH secara IV.
5. Tes khusus :
• Water Diuresis Test
• Tes stimulasi
• Tes thon
• Tes metirapon (Metapiron)
6. Urine 24 jam

Senin, 11 Januari 2010

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Salah satu dari aspek psikologis yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas perolehan pembelajaran adalah faktor minat belajar mahasiswa, minat sebagai daya gerak yang mendorong untuk memberi perhatian terhadap orang atau objek dengan kata lain menjadi alasan mengapa seseorang memberi perhatian dan lebih berperan aktif terhadap objek atau kegiatan (Crow & Crow dikutip oleh Djaali, 2008).
Proses pembelajaran terdiri dari beberapa komponen, salah satu diantaranya adalah pembelajaran laboratorium, pengalaman belajar praktika (laboratorium) merupakan proses pembelajaran di laboratorium dalam rangka memperkuat teori – teori / pengetahuan yang didapat dengan memperkuat belajar lain (Zainuddin. M , 2005). Pembelajaran keterampilan motorik membutuhkan praktik yaitu kesempatan untuk mencoba dan pada akhirnya memperlancar semua proses yang esensial untuk menghasilkan kinerja terkoordinasi yang lancar.
Keinginan, kemauan, serta kesempatan untuk latihan yang kurang dari peserta didik dalam memanfaatkan kesempatan belajar di laboratorium dan belum maksimalnya peran serta bimbingan dosen, yang mungkin menjadi hambatan dalam pencapaian hasil yang diharapkan selama proses pembelajaran di laboratorium, masih merupakan permasalahan yang perlu pemecahan bersama-sama. Yang dimaksud dengan praktikum adalah kegiatan proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas dan di laboratorium, baik di kampus maupun di lahan praktik untuk melatih keterampilan yang berfokus kepada integritas ilmu dan teknologi dalam melakukan praktik klinik. Kegiatan ini dapat menggunakan metode simulasi, demonstrasi, role play dan bed site teaching dimana satu SKS praktikum sama dengan 100 menit tiap pertemuan/minggu. Belajar di laboratorium tidaklah sama dengan belajar didalam kelas karena belajar di laboratorium mahasiswa dituntut lebih aktif dan terampil. (http://digilib.unnes.ac.id.pdf)
Kurangnya minat belajar mahasiswa di laboratorium merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan, kurang adanya minat belajar akan mempengaruhi respon mahasiswa terhadap pembelajaran yang akan dilaksanakan, dimana kurangnya ketertarikan, keinginan dan kesiapan untuk menerima pembelajaran yang berakibat pencapaian kemampuan psikomotor yang kurang maksimal (Reilly D.E dan Obermann M. H, 2002 ).
Berdasarkan pengamatan peneliti selama menjadi staf di Akademi Keperawatan Pemkab Muna waktu pembelajaran di laboratorium yaitu 2 x 50 menit sehingga belum bisa memberikan kesempatan pada semua mahasiswa untuk dapat mencoba tindakan yang di ajarkan dan bimbingan dari dosen dalam membina peserta didik untuk lebih memahami materi pembelajaran karena hanya terbatas pada jam perkuliahan di laboratorium saja, selain itu terbatasnya sarana dan prasarana baik fisik maupun sumber daya tenaga pengajar yang tersedia yang sangat minim merupakan suatu masalah yang harus mendapatkan perhatian serius pengelola maupun pemerintah daerah Kabupaten Muna selaku penanggung jawab.
Nilai evaluasi praktik di laboratorium mata ajar Kebutuhan Dasar Manusia dengan beban 4 SKS tahun 2008 yaitu rata-rata kelas 2,75 dan ada beberapa mahasiswa yang mendapat remedial. (BAAK Akper Pemkab Muna, 2008).
Dengan demikian minat belajar di laboratorium menjadi suatu fenomena yang mungkin akan mendukung untuk meningkatkan kemampuan psikomotor peserta didik. Dimana minat merupakan sumber motivasi yang mungkin mendorong untuk lebih memahami serta mengembangkan kemampuan peserta didik ke arah yang lebih kompleks. Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan antara minat belajar di laboratorium mata ajar Kebutuhan Dasar Manusia dengan kemampuan psikomotor pemasangan infus pada mahasiswa Akademi Keperawatan Pemkab Muna Propinsi Sulawesi Tenggara.

B. Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara minat belajar di laboratorium mata ajar Kebutuhan Dasar Manusia dengan kemampuan psikomotor pemasangan infus
mahasiswa Akademi Keperawatan Pemkab Muna?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan minat belajar di laboratorium mata ajar Kebutuhan Dasar Manusia dengan kemampuan psikomotor pemasangan infus pada mahasiswa Akademi Keperawatan Pemkab Muna Propinsi Sulawesi Tenggara.
2. Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi minat belajar di laboratorium mata ajar Kebutuhan Dasar Manusia Akademi Keperawatan Pemkab Muna Propinsi Sulawesi Tenggara.
2. Mengidentifikasi kemampuan psikomotor pemasangan infus pada mahasiswa Akademi keperawatan pemkab Muna Propinsi Sulawesi Tenggara.
3. Mengidentifikasi hubungan minat belajar di laboratorium mata ajar Kebutuhan Dasar Manusia dengan kemampuan psikomotor pemasangan infus pada mahasiswa Akademi Keperawatan Pemkab Muna Prop. Sulawesi Tenggara.

D. Manfaat Penelitian
1. Mengetahui mekanisme peningkatan kemampuan psikomotor setelah konsep
minat digunakan sebagai dasar pembelajaran di laboratorium.
2. Dapat dijadikan perbandingan dari berbagai mekanisme peningkatan kemampuan dan pengembangan kemampuan psikomotor dalam penerapan metode-metode pembelajaran.
3. Konsep minat belajar dapat dijadikan acuan oleh pembimbing Akademik dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat selama kegiatan di laboratorium.
4. Konsep minat dapat digunakan oleh peserta didik sebagai strategi untuk meningkatkan peran dalam proses pembelajaran di laboratorium.

Jumat, 09 Oktober 2009

ASKEP PADA KLIEN TB PARU

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TB PARU & HEMAPTOE
Pangertian
Penyakit infeksi kronis dengan karakteristik terbentuknya tuberkel granuloma pada paru.

Etiologi
Mycobacterium tuberkulosis (Amin, M.,1999).

Faktor Resiko
 Rasial/Etnik group : Penduduk asli Amerika, Eskimo, Negro, Imigran dari Asia Tenggara.
 Klien dengan ketergantuangan alkhohol dan kimia lain yang menimbulkan penurunan status kesehatan.
 Bayi dan anak di bawah 5 tahun.
 Klien dengan penurunan imunitas : HIV positip, terapi steroid & kemoterapi kanker.

Gejala Klinis
1. Demam (subfebris, kadang-kadang 40 - 41 C, seperti demam influensa.
2. Batuk (kering, produktif, kadang-kadang hemoptoe (pecahnya pembuluh darah).
3. Sesak napas, jika infiltrasi sudah setengah bagian paru.
4. Nyeri dada, jika infiltrasi sudah ke pleura.
5. Malaise , anoreksia, badan kurus, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam.

Pengkajian (Doegoes, 1999)
1. Aktivitas /Istirahat
- Kelemahan umum dan kelelahan.
- Napas pendek dgn. Pengerahan tenaga.
- Sulit tidur dgn. Demam/kerungat malam.
- Mimpi buruk.
- Takikardia, takipnea/dispnea.
- Kelemahan otot, nyeri dan kaku.
2. Integritas Ego :
- Perasaan tak berdaya/putus asa.
- Faktor stress : baru/lama.
- Perasaan butuh pertolongan
- Denial.
- Cemas, iritable.

3. Makanan/Cairan :
- Kehilangan napsu makan.
- Ketidaksanggupan mencerna.
- Kehilangan BB.
- Turgor kulit buruk, kering, kelemahan otot, lemak subkutan tipis.
4. Nyaman/nyeri :
- Nyeri dada saat batuk.
- Memegang area yang sakit.
- Perilaku distraksi.
5. Pernapasan :
- Batuk (produktif/non produktif)
- Napas pendek.
- Riwayat tuberkulosis
- Peningkatan jumlah pernapasan.
- Gerakan pernapasan asimetri.
- Perkusi : Dullness, penurunan fremitus pleura terisi cairan).
- Suara napas : Ronkhi
- Spuntum : hijau/purulen, kekuningan, pink.
6. Kemanan/Keselamatan :
- Adanya kondisi imunosupresi : kanker, AIDS, HIV positip.
- Demam pada kondisi akut.
7. Interaksi Sosial :
- Perasaan terisolasi/ditolak.

Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah.
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.
3. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan produksi spuntum/batuk, dyspnea atau anoreksia
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, penurunan geraan silia, stasis dari sekresi.
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, terapi dan pencegahan berhubungan dengan infornmasi kurang / tidak akurat.

Intervensi
Diagnosa Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah.
Tujuan : Kebersihan jalan napas efektif.
Kriteria hasil :
 Mencari posisi yang nyaman yang memudahkan peningkatan pertukaran udara.
 Mendemontrasikan batuk efektif.
 Menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi.

Rencana Tindakan :
1. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan.
R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
2. Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.
R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.
3. Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.
R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.
4. Lakukan pernapasan diafragma.
R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar.
5. Tahan napas selama 3 - 5 detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut.
Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat.
R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret.
6. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.
R/ Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.
7. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.
R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis.
8. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.
R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.
9. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :
Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.
Pemberian expectoran.
Pemberian antibiotika.
Konsul photo toraks.
R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

Diagnosa Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.
Tujuan : Pertukaran gas efektif.
Kriteria hasil :
 Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif.
 Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
 Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.

Rencana tindakan :
1. Berikan posisi yang nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.
R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.
2. Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.
R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.
3. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
4. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru.
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
5. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.
R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.
6. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :
Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.
Pemberian antibiotika.
Pemeriksaan sputum dan kultur sputum.
Konsul photo toraks.
R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

Diagnosa Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan produksi spuntum/batuk, dyspnea atau anoreksia
Tujuan : Kebutuhan nutrisi adekuat
Kriteria hasil :
 Menyebutkan makanan mana yang tinggi protein dan kalori
 Menu makanan yang disajikan habis
 Peningkatan berat badan tanpa peningkatan edema

Rencana tindakan
1. Diskusikan penyebab anoreksia, dispnea dan mual.
R/ Dengan membantu klien memahami kondisi dapat menurunkan ansietas dan dapat membantu memperbaiki kepatuhan teraupetik.


2. Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan.
R/ Keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk makan.
3. Tawarkan makan sedikit tapi sering (enam kali sehari plus tambahan).
R/ Peningkatan tekanan intra abdomen dapat menurunkan/menekan saluran GI dan menurunkan kapasitas.
4. Pembatasan cairan pada makanan dan menghindari cairan 1 jam sebelum dan sesudah makan.
R/ cairan dapat lebih pada lambung, menurunkan napsu makan dan masukan.
5. Atur makanan dengan protein/kalori tinggi yang disajikan pada waktu klien merasa paling suka untuk memakannya.
R/ Ini meningkatkan kemungkinan klien mengkonsumsi jumlah protein dan kalori adekuat.
6. Jelaskan kebutuhan peningkatan masukan makanan tinggi elemen berikut
a. Vitamin B12 (telur, daging ayam, kerang).
b. Asam folat (sayur berdaun hijau, kacang-kacangan, daging).
c. Thiamine (kacang-kacang, buncis, oranges).
d. Zat besi (jeroan, buah yang dikeringkan, sayuran hijau, kacang segar).
R/ Masukan vitamin harus ditingkatkan untuk mengkompensasi penurunan metabolisme dan penyimpanan vitamin karena kerusakan jarinagn hepar.
7. Konsul dengan dokter/shli gizi bila klien tidak mengkonsumsi nutrien yang cukup.
R/ Kemungkinan diperlukan suplemen tinggi protein, nutrisi parenteral,total, atau makanan per sonde.
Daftar Pustaka

Amin, M., (1999). Ilmu Penyakit Paru. Surabaya :Airlangga Univerciti Press
Carpenito, L.J., (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2 Jakarta : EGC
(2000). Diagnosa Keperawatan. Ed. 8. Jakarta : EGC
Doengoes, (1999). Perencanaan Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGc

Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius.