Catatan Harianku..

Loading...

http//www.manahilkhair.com

special for AiLL My son n Muhar my wife

Kamis, 10 September 2009

artritis rematoid

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Artritis reumatoid merupakan kasus panjang yang sangat sering diujikan. Bisanya terdapat banyak tanda- tanda fisik. Diagnosa penyakit ini mudah ditegakkan. Tata laksananya sering merupakan masalah utama. Insiden pucak dari artritis reumatoid terjadi pada umur dekade keempat, dan penyakit ini terdapat pada wanita 3 kali lebih sering dari pada laki- laki. Terdapat insiden familial ( HLA DR-4 ditemukan pada 70% pasien ).

Artritis reumatoid diyakini sebagai respon imun terhadap antigen yang tidak diketahui. Stimulusnya dapat virus atau bakterial. Mungkin juga terdapat predisposisi terhadap penyakit.

I.2 Tujuan

1.2.1. Tujuan Umum

Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit Artritis Reumatoid, dan sebagai bahan literatur bagi mahasiswa keperawatan.

1.2.2. Tujuan Khusus

Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perawat dan mahasiswa keperawatan dalam :

1. Mengidentifikasi tanda dan gejala Artritis Reumatoid.

2. Memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada penderita Artritis Reumatoid.

3. Mencegah untuk tidak terjadinya komplikasi pada penderita Artritis.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. PENGERTIAN

Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan deformitas lebih lanjut.

( Susan Martin Tucker.1998 )

Artritis Reumatoid ( AR ) adalah kelainan inflamasi yang terutama mengenai mengenai membran sinovial dari persendian dan umumnya ditandai dengan dengan nyeri persendian, kaku sendi, penurunan mobilitas, dan keletihan.

( Diane C. Baughman. 2000 )

Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh.

( Arif Mansjour. 2001 )

2.2. INSIDEN

AR terjadi antara usia 30 tahun dan 50 tahun dengan puncak insiden antara usia 40 tahun dan 60 tahun. Wanita terkena dua sampai tiga kali lebih sering dari pada pria.

2.3. ETIOLOGI

AR adalah suatu penyakit otoimun yang timbul pada individu – individu yang rentang setelah respon imun terhadap agen pencetus yang tidak diketahui. Faktor pencetus mungkin adalah suatu bakteri, mikoplasma, virus yang menginfeksi sendi atau mirip dengan sendi secara antigenis. Biasanya respon antibodi awal terhadap mikro-organisme diperatarai oleh IgG. Walaupun respon ini berhasil mengancurkan mikro-organisme, namun individu yang mengidap AR mulai membentuk antibodi lain biasanya IgM atau IgG, terhadap antibodi Ig G semula. Antibodi ynng ditujukan ke komponen tubuh sendiri ini disebut faktor rematoid ( FR ). FR menetap di kapsul sendi, dan menimbulkan peradangan kronik dan destruksi jaringan AR diperkirakan terjadi karena predisposisi genetik terhadap penyakit autoimun.


2.4. PATOFISIOLOGI

Faktor genetik, infeksi



Sasaran primer Sinovium



Sinovitis Proliferatif








Pelepasan kolagenesa & produksi lisozim o/ fagosit Pembengkakan, kekakuan pergelangan tangan & sendi jari tangan



Erosi sendi & periartikularis P’katan tekanan sendi distensi serta putusnya kapsula & ligamentum










Kista dan kolaps sendi Sublaksasi sendi MCP & p’kembangan penyimpangan ulna klasik sering timbul






Hiperekstensi / deformitas fleksi bisa b’kembang dlm sendi IP ibu jari tangan, sendi PIP jr tgn, sendi MCP & IP jr tgn



Tenosinovitis, jari tng pelatuk, rupture tendo & sindroma terowongan kaspal lazim di temukan



2.5. MANIFESTASI KLINIS

1. Ditetapkan dengan tahapan dan keparahan penyakit.
2. Nyeri sendi, bengkak, hangat, eritema, dan kurang berfungsi adalah gambaran klinis yang klasik.
3. Palpitasi persendian menunjukan jaringan spon atau boggi.
4. Seringkali dapat diaspirasi cairan dari sendi yang mengalami pembengkakan.



Pola karakteristik dari persendian yang terkena

1. Mulai pada persendian kecil ditangan, pergelangan , dan kaki.
2. Secara progresif menenai persendian, lutut, bahu, pinggul, siku, pergelangan kaki, tulang belakang serviks, dan temporomandibular.
3. Awitan biasnya akut, bilateral, dan simetris.
4. Persendian dapat teraba hangat, bengkak, dan nyeri ; kaku pada pagi hari berlangsung selama lebih dari 30 menit.
5. Deformitasi tangan dan kaki adalah hal yang umum.

Gambaran Ekstra-artikular

1. Demam, penurunan berat badan, keletihan, anemia
2. Fenomena Raynaud.
3. Nodulus rheumatoid, tidak nyeri tekan dan dapat bergerak bebas, di temukan pada jaringan subkutan di atas tonjolan tulang.

2.6. EVALUASI DIAGNOSIS

1. Beberapa faktor yang menujang diagnosa AR: nodulus reumatoid, inflamasi sendi, temuan laboraturium.
2. Faktor reumatoid ( FR ) terdapat lebih dari 80% pada darah pasien.
3. jumlah sel darah merah dan komponen komplemen C4 menurun.

2.7. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan umum yang lengkap penting di lakukan. Disamping menilai adanya sinovasi pada setiap sendi, perhatian juga hal –hal berikut ini :

1. Keadaan umum – komplikasi steroid, berat badan.
2. Tangan – meliputi vaskulitasi dan fungsi tangan.
3. Lengan – siku dan sendi bahu, nodul rematoid dan pembesaran kelenjar limfe aksila.
4. Wajah. Periksa mata untuk sindroma Sjorgen, skleritis, episkleritis, skleromalasia perforans, katarak, anemia dan tanda – tanda hiperviskositas pada fundus. Kelenjar parotis membesar ( sinroma Sjogren ). Mulut ( kering, karies dentis, ulkus ), suara serak, sendi temporomandibula ( krepitus ). Catatan : artritis rematoid tidak menyebabkan iritasi.
5. Leher – adanya tanda – tanda terkenanya tulang servikal.
6. Toraks. Jantung ( adanya perikarditis, defek konduksi, inkompetensi katup aorta dan mitral ). Paru – paru ( adanya efusi pleural, fibrosis, nodul infark, sindroma Caplan ).
7. Abdomen – adanya splenomegali dan nyeri tekan apigastrik.
8. Panggul dan lutut.
9. Tungkai bawah – adanya ulkus, pembengkakan betis ( kista Baker yang reptur ) neuropati, mononeuritis multipleks dan tanda – tanda kompresi medulla spinalis.
10. Kaki.
11. Urinalisis untuk protein dan darah, serta pemeriksaan rektum untuk menentukan adanya darah.

2.8. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Untuk menyokong diagnosa (ingat bahwa ini terutama merupakan diagnosa klinis)

1. Tes serologik

(a) faktor rematoid – 70% pasien bersifat seronegatif.

Catatan: 100% dengan factor rematoid yang positif jika terdapat nodul atasindroma

Sjogren

(b) Antibodi antinukleus (AAN)- hasil yang positif terdapat pada kira-kira 20 kasus

2. Foto sinar X pada sendi-sendi yang terkena. Perubahan-perubahan yang dapat di te

mukan adalah:

(a) pembekakan jaringan lunak;

(b) penympitan rongga sendi;

(c) erosi sendi;

(d) osteoporosis juksta artikuler;


Untuk menilai aktivitas penyakit:

1. Erosi progresif pada foto sinar X serial.

2. LED. Ingat bahwa diagnosis banding dari LED yang meningkat pada artritis reumatoid meliputi :

(a) penyakit aktif ;

(b) amiloidosis ;

(c) infeksi ;

(d) sindroma Sjorgen ;

3. Anemia – berat ringannya anemia normakromik biasanya berkaitan dengan aktifitas.

4. Titer factor rematoid – makin tinggi titernya makin mungkin terdapat kelainan ekstra artikuler. Faktor ini terkait dengan aktifitas artritis.

2.9. KOMPLIKASI

Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus peptik yang merupakan komlikasi utama penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit ( disease modifying antirhematoid drugs, DMARD ) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada arthritis reumatoid.

Komlikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas , sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis.

2.10. PENATALAKSANAAN

Tujuan dari penatalaksanaan termasuk penyuluhan, keseimbangan antara istirahat dan latihan, dan rujukan lembaga di komunitas untuk mendapatkan dukungan.

1. AR dini : penatalaksanaan pengobatan termasuk dosis terapeutik salisilat atau obat – obat antiinflamasi nonsteroid ( NSAIDS ); antimalaria emas, pensilamin, atau sulfasalazin, methotreksat; analgetik selama periode nyeri hebat.
2. AR sedang , erosit: program formal terapi okupasi dan terapi fisik.
3. AR persisten, erisif; pembedahan rekonstruksi dan kortikosteroid.
4. AR tahap lanjut yang tak pulih: preparat immunosupresif, seperti metotreksat, siklosfosfamid, dan azatioprin.
5. Pasien AR sering mengalami anoreksia, penurunan berat badan, dan anemia, sehingga membutuhkan pengkajian riwayat diit yang sangat cermat untuk mengidntifikasi kebiasaan makan dan makanan yang disukai. ( kortikosteroid dapat menstimulasi napsu makan dan menyebabkan penambahan berat badan ).

2.11. PROGNOSIS

Perjalanan penyakit artritis reumatoid sangat bervariasi, bergantung pada ketaatan pasien untuk berobat dalam jangka waktu lama. Sekitar 50 – 70% pasien artritis reumatoid akan mengalami prognosis yang lebih buruk. Golongan ini umumya meninggi 10 – 15 tahun lebih cepat dari pada orang tanpa arthritis rheumatoid. Penyebab kematiannya adalah infeksi, penyakit jantung, gagal pernapasan, gagal ginjal, dan penyakit saluran cerna. Umumnya mereka memiliki keadaan umum yang buruk, lebih dari 30 buah sendi yang mengalami peradangan, dengan manifestasi ekstraartikuler, dan tingkat pendidikan yang rendah. Golongan ini memerlukan terapi secara agresif dan dini karena kerusakan tulang yang luas dapat terjadi dalam 2 tahun pertama.


BAB III

PROSES KEPERAWATAN

3.1. PENGKAJIAN

1. Kaji citra diri pasien yang berhubungan dengan perubahan muskuloskletal dan tetapkan apakah pasien mengalami keletihan yang tidak lazim, kelemahan umum, nyeri, kaku pada pagi hari, demam, atau anoraksia.
2. Kaji sistem kardiovaskular, pulmonal, dan renal.
3. Kaji persendian dengan pengamatan, palpasi, penyelidikan adanya nyeri tekan, bengkak , dan kemerahan pada sendi yang terkena.
4. Kaji mobilitas sendi, batasan gerak, dan kekuatan otot.
5. Fokuskan pada pengidentifikasi masalah dan faktor – faktor pasien.
6. Kaji kepatuhan terhadap pengobatan dan penatalaksanaan diri.
7. Kumpulan informasi mengenai pemahaman pasien, motivasi, pengetahuan, kemampuan koping, penglaman masa lalu, persepsi dan ketakutan yang tidak diketahui.

3.2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri yang berhubungan dengan inflamasi, kerusakan jaringan, dan immobilitas sendi.
2. Kerusakan immobilitas fisik yang berhubungan dengan keterbatasan gerakan sendi.
3. Gangguan konsep diri yang berhubungan dengan ketergantungan fisik dan psikologis dari penyakit kronis dan kehilangan kebebasan.

3.3. INTERVENSI

DX I :

1. Kaji tingkat nyeri
2. Ajarkan dan lakukan teknik – teknik penatalaksanan nyeri untuk penatalaksanaan jangka pendek segera ( misal gunakan kompres panas dan dingin, istirahat, dan analgesik ).
3. Ajarkan tentang penatalaksaan nyeri jangka panjang ( misal penggunaan obat – obat antiinflamasi, menetapkan regimen latihan untuk mempertahankan mobilitas sendi, dan teknik – teknik relaksasi ).
4. Berikan tindakan yang menghasilkan rasa nyaman ketika memberikan perawatan.
5. Buat pengharapan yang realitis sehingga pasien dan orang terdekat mengenali bahwa nyeri dapat dikontrol tergantung pada aktivitas penyakit.

DX II :

1. Hilangkan nyeri menetap dan kekakuan pada pagi hari untuk meningkatkan kemampuan mobilitas dan perawatan diri pasien.
2. Bantu dan ajarkan dan / atau latihan rentang gerak aktif setelah tindakan kompres panas.
3. Kembangkan dan ajarkan rencana program latihan setiap hari
4. Observasi toleransi pasien terhadap program latihan.
5. Dorong aktivitas perawatan diri dan kemandirian.
6. Pertahankan periode istirahat terencana.
7. Pertahankan lingkungan yang aman.

DX III :

1. Coba untuk memahami reaksi emosional pasien terhadap penyakit.
2. Beri semangat untuk melakukan komunikasi sehingga pasien dan keluarga dapat mengungkapkan perasaan, persepsi, dan ketakutannya yang berhubungan dengan penyakit.
3. Beri dorongan pada pasien dan keluarga untuk patuh terhadap program penatalaksanaan sehingga memungkinkan untuk mencapai hasil yang lebih positif.
4. Anjurkan mengungkapkan rasa takut dan ansietes terhadap proses penyakit.
5. Bantu pasien dalam memilih keterampilan.
6. Terima perubahan prilaku: menyangkal, ketidakberdayaan, ansietas, ketergantungan.
7. Bersikap suportif tetapi tegas dalam menyusun tujuan.
8. Tingkatkan perawatan diri dan libatkan dalam perencanaan perawatan.
9. Dorong kemandirian dan berikan penghargaan trhadap penyelesaian tugas.
10. Modivikasi lingkungan dan sediakan waktu untuk pasien mencapai tujuan.
11. Diskusikan perlunya pembatasan dan perubahan gaya hidup ; berikan empati dan pemahaman.

mielopaty

PENYAKIT DEGENERATIF PADA MEDULA SPINALIS

Pendahuluan
Penyakit degeneratif adalah istilah yang secara medis digunakan untuk
menerangkan adanya suatu proses kemunduran fungsi sel saraf tanpa sebab yang
diketahui, yaitu dari keadaan normal sebelumnya ke keadaan yang lebih buruk.
Penyebab penyakit sering tidak diketahui, termasuk diantaranya kelompok penyakit
yang dipengaruhi oleh faktor genetik atau paling sedikit terjadi pada salah satu
anggota keluarga (faktor familial) sehingga sering disebut penyakit
heredodegeneratif. Cowers tahun 1902 menekankan adanya istilah abiotrophy untuk
penyakit seperti tersebut di atas yang artinya menunjukkan adanya penurunan daya
tahan sel neuron dan mengakibatkan kematian dini. Konsep di atas mewujudkan
hipotesa bahwa proses penuaan (usia) dan penyakit degeneratif dari sel mempunyai
proses dasar yang sama.
Ada beberapa penyakit yang dahulu dimasukkan ke dalam penyakit
degeneratif, tetapi sekarang diketahui mempunyai suatu dasar gangguan metabolik,
toksik dan nutrisi (defisiensi zat tertentu) atau disebabkan suatu slow virus. Dengan
berkembangnya ilmu, memang banyak penyakit yang dulu penyebabnya tidak
diketahui akhirnya diketahui sehingga tidak termasuk penyakit degeneratif.
Sedangkan penyakit yang penyebabnya tidak diketahui dan mempunyai kesamaan
dimana terdapat disintegrasi yang berjalan progresif lambat dari sistem susunan
saraf dimasukkan ke dalam golongan ini.
Istilah yang agak membingungkan yaitu pemakaian yang tidak konsisten dari
istilah atrofi dan degeneratif, dua istilah ini digunakan pada penyakit degeneratif.
Spatz mengatakan bahwa gambarannya secara histopatologis berbeda. Atrofi
gambaran khasnya berupa proses pembusukan dan hilangnya neuron dan tidak
dijumpai produk degeneratif, hanya jarak antar sel yang melebar dan terjadi fibrous
gliosis. Degeneratif menunjukkan proses yang lebih cepat dari kerusakan neuron,
mielin dan jaringan dengan akibat timbulnya produk-produk degeneratif dan reaksi
fagositosis yang hebat dan gliosis selular. Jadi perbedaan atrofi dan proses
degeneratif yaitu pada kecepatan terjadinya dan tipe kerusakannya. Banyak penyakit
yang merupakan proses degeneratif ternyata diketahui kemudian penyebabnya
adalah proses metabolik. Tetapi ternyata pada kejadian atrofi, ada beberapa yang
dasarnya adalah gangguan metabolik juga.
Gambaran klinis umum penyakit degeneratif:
1. Perjalanan penyakit lambat, setelah waktu yang lama dari fungsi saraf yang
normal, kemudian diikuti kemunduran fungsi susunan saraf tertentu yang
bersifat progresif lambat yang dapat berlanjut sampai beberapa tahun atau
puluhan tahun. Pasien sulit menentukan kapan penyakit mulai timbul. Adanya
2002 digitized by USU digital library 2
riwayat kejadian yang dapat mempresipitasi terjadinya penyakit degeneratif,
misalnya kecelakaan, infeksi atau kejadian lain yang diingat sebagai penyakit.
2. Kejadian penyakit yang sama dalam keluarga (bersifat familial)
3. Pada umumnya penyakit degeneratif pada sistem saraf akan terjadi terus
menerus, tidak dapat diperbaiki oleh tindakan medis atau bedah, kadangkadang
penyakit ini ditandai dengan periode yang stabil untuk beberapa
lama. Beberapa gejala dapat dikurangi dengan penatalaksanaan yang baik,
tetapi penyakitnya sendiri tetap progresif.
4. Bilateral simetris. Meskipun kadang-kadang misalnya pada Amyotrophic
lateral skelerosis mula-mula hanya mengenai satu anggota gerak atau salah
satu sisi tubuh, tapi dalam proses selanjutnya menjadi simetris.
5. Hanya mengenai daerah anatomis/fisiologi susunan saraf pusat secara
selektif. Misalnya ALS yang termasuk dalam Motor Neuron Disease yang
terkena adalah motor neuron di kortek serebral, batang otak dan medula
spinalis dan terjadi ataksia yang progresif dimana hanya sel purkinye yang
terkena.
6. Secara histologis bukan hanya sel-sel neuron saja yang hilang tapi juga
dendrit, axon, selubung mielin yang tidak berhubungan dengan reaksi
jaringan dan respon selular.
7. Pada likuor serebrospinalis kadang-kadang terdapat sedikit peningkatan
protein, tetapi pada umumnya tidak menunjukkan kelainan yang berarti.
8. Karena menyebabkan kehilangan jaringan secara radiologis terdapat
pengecilan volume disertai perluasan ruang likuor serebrospinalis.
Permeabilitas sawar darah otak tidak berubah.
9. Laboratorium atau pemeriksaan penunjang lain sering memberikan hasil yang
negatif. Berbeda dengan penyakit susunan saraf pusat progresif lain seperti
tumor, infeksi, proses inflamasi lain.
10. Pemeriksaan neuroimaging dapat menunjukkan kelainan tertentu, sehingga
dapat membantu menyingkirkan golongan penyakit lain.
Lesi pada medula spinalis termasuk proses degeneratif akan memberikan gejala
suatu lesi intrameduler karena proses degeneratif memang terjadi pada medula
spinalis secara selektif.
Gambaran klinis lesi medula spinalis
1. Mielopati transversa dimana sekuruh jaras asenden dan desenden terkena.
Sehingga terjadi gangguan motorik, sensorik dan vegetatif yang luas.
Penyebab yang tersering adalah trauma, tumor, multiple sklerosis, dan
penyakit pembuluh darah. Penyebab lainnya hematom epidural, abses, hernia
diskus intervertebralis, sindroma parainfeksi dan post vaksinasi.
2. Lesi yang mengenai bagian sentral medula spinalis. Contohnya syringomieli,
hydromieli, tumor intramedular. Medula spinalis dapat terganggu mulai dari
sentral kemudian meluas ke struktur lain dari medula spinalis. Gambaran
khasnya dalah suatu disosiasi sensibilitas. Dengan berjalannya penyakit
bagian anterior dapat terkena pada tingkat lesinya dan mengakibatkan atrofi
neurogenik sentral, parese dan arefleksia. Perluasan ke lateral dapat
menyebabkan sindrome Horner’s ipsilateral (bila mengenai pusat siliospinal
pada lesi di C8-T2), kiposkoliosis (bila mengenai nukleus motorik dari
dorsomedian dan ventromedian yang mempersarafi otot para spinal), paralisa
spastik di bawah lesi bila traktus kortikospinalis terkena. Perluasan ke dorsal
2002 digitized by USU digital library 3
akan mengakibatkan putusnya jaras dorsalis (untuk sensasi posisi dan rasa
getar ipsilateral) dan dengan terkenanya juga daerah ventrolateral akan
menyebabkan gangguan suhu dan nyeri pada medula spinalis di bawah lesi.
Karena secara laminasi traktus spinothalamikus sensasi servikal terletak
dorsomedial dan sensasi sakral terletak ventrolateral, pada lesi
intraparenkimal dapat terjadi sensasi sakral tidak terkena.
3. Lesi di kolumna posterolateral. Dapat terjadi secara selektif pada penyakit
Subacute combine degeneration pada defisiensi Vitamin B12 mielopati
vakuolar oleh sebab AIDS, servikal spondylosis. Terjadi gangguan
proprioseptif dan sensasi vibrarsi pada tungkai sebagai ataksia sensorik.
Ganguan traktus kortikospinal bilateral akan mengakibatkan spasitisitas,
hiperreflesi, dan refleks ekstensor bilateral. Akan tetapi reflek dapat negatif
atau menurun bila disertai neuropati perifer
4. Lesi di kolumna posterior, sering terjadi pada penyakit Tabes dorsalis
(neurosyphillis). Terjadi gangguan sensasi vibrasi dan posisi dan penurunan
rasa raba, juga mengakibatkan ambang sensasi mekanik, taktil, postural,
halusinasi, arah gerak dan posisi, sehingga akan timbul staksia sensorik dan
Romberg yang positif. Cara berjalan yang ataksik. Pasien mengeluh nyeri
‘lancinating’ terutama tungkai. Dapat terjadi inkontinens urine, reflek KPR dan
APR yang negatif. Terdapat Lhermitte’s sign yang disebabkan peningkatan
sensitifitas mekanik pada kolumna dorsalis dimana fleksi leher akan
mengakibatkan peningkatan secara spontan unit-unit sensoris yang aktif dan
ikut sertanya serabut saraf yang lain.
5. Lesi di kornu anterior. Penyakit yang menyerang secara difus kornu anterior
misalnya adalah spinal muskular atrofi (misalnya infantile spinal muscular
atrophy in motor neuron disease). Bila bagian kornu anterior terkena secara
difus terjadi kelemahan secara difus, atrofi, fasikulasi terjadi pada otot batang
tubuh dan ekstremitas. Tonus otot menurun dan ketegangan otot dapat
menurun atau hilang. Gangguan sensorik tidak terjadi karena jaras sensorik
tidak terkena.
6. Kombinasi lesi di kornu anterior dantraktus piramidalis. Hal ini secara
karakteristik terjadi pada Amyotrophic lateral sclerosis. Terjadi gangguan
secara difus dari lower motor neuron (progressive muscular atrophy, parese,
fasikulasi) yang bersamaan dengan gejala lesi UMN (parese, spastisitas,
reflek plantar ekstensor). Tidak ada gangguan sphincter urine dan rektal tidak
ada.
Klassifikasi penyakit degeneratif yang mengenai medula spinalis
I. Syndrome progressive dementia in combination with other neurologic
abnormalities.
A. Cortical spinal degeneration (Jakob) and the Dementia-Parkinson-
Amytrophic lateral sclerosis complex (gumanian and others)
B. Familial dementia with spastic paraparesis
II. Syndrome of progressive ataxia
A. Predominantly spinal forms of hereditary ataxia
1. Friedreich ataxia
2. Strumpell-Lorrain
2002 digitized by USU digital library 4
III. Syndorme of slowly developing muscular weakness and atrophy (nuclear
amiotrophy). Without sensory changes:
1. Amytrophic lateral sclerosis
2. Progressive spinal muscular atrophy
3. Progressive bulbar palsy
4. Primary Lateral sclerosis
5. Heriditary forms of progressive muscular atrophy and spastic
paraplegia
Corticostriatospinal degeneration (Parkinson-Dementia) and Amytrophic
lateral sclerosis complex.
Merupakan penyakit kronik yang mengenai pertengahan danakhir masa
dewasa dan secara klinis gambarannya adanya gangguan intelek dan tingkah laku,
kelemahan, ataksia, spastisitas anggota gerak dan gejala ekstrapiramidal: rigiditas,
gerakanjadi lambat, tremor, postur athetotic, disartri, likuorserebrospinalis normal.
Lesi terdapat difus dan terutama terdapat pada neuron terluar di frontal,
temporal dan girus motorik sentralis, korpus striatum, thalamus ventral, nukleus
motorik batang otak. Pada salah satu dari kasus Jakob perubahan terutama terjadi
pada kornu anterior dan traktus kortikospinalis dari medula spinalis seperti ALS.
Penemuan tersebut menjadikan konsep penyakit ini adalah suatu proses degeneratif
pada kortikospinalis dan sering merupakan penyakit yang terjadi dalam hubungan
keluarga sehingga disebut Creutzfeldt-Jakob disease.
Pasien akan mengalami rigiditas yang hebat, tanda piramidal, ALS yang
berkembang dalam beberapa tahun. Pada stadium akhir dari penyakit biasanya
pasien sadar, tetapi selalu harus dibantu dalam mengerjakan sesuatu, pasien tidak
dapat bicara, menelan dan menggerakkan anggota tubuh dan hanya dapat
menggerakkan bola mata. Fungsi intelek kurang terganggu dibanding motorik.
Penyakit berlangsung progresif dan berakhir fatal dalam 5 – 10 tahun.
Familial dementia with spastic paraparesis
Sering terjadi dengan pada anggota keluarga yang sama pada usia
pertengahan, dimana terjadi paraparese spastik dengan gangguan intelek secara
gradual. Kapasitas mental pasien berkurang secara gradual dan kapasitas untuk
berpikir tingkat tinggi terganggu. Timbul reflek tendo yang meningkat, klonus,
babinski. Berbeda dengan tipe yang dominan, tipe yang diturunkan secara resesif
sering mengenai lebih banyak sistem saraf dan menimbulkan demnetia, ataksia
serebeller dan epilepsi. Gambaran patologi: selain plak senile, dan perubahan
neurofibrillary, terdapat demielinisasi pada masa putih subkortikal dan korpus
kalosum, area yang bercak-bercak tapi meluas dari pembengkakan arteriol, yang
dengan pewarnaan menunjukkan suatu amyloid. Familial spastic paraplegia dapat
juga disertai ataksia cerebellar yang progresif dimana terjadi pula degenerasi
spinocerebellar.
Ataksia Friedreich
Adam memasukkan pula sindrome ataksia yang progresif yaitu ataksia
herediter dengan predominan pada medula spinalis. Penyakit yang termasuk di sini
adalah Ataksia Friedreich. Penyakit ini menurun secara resesif dengan perubahan
patologis dominan pada kolomna posterior, traktus spinoserebellaris, dan traktus
2002 digitized by USU digital library 5
kortikospinalis. Gejala umumnya timbul pada usia muda, 50% terdapat pada usia
kurang dari 10 tahun. Penyakit ini berjalan secara progresif dan biasanya setelah 5
tahun pasien tak dapat berjalan lagi. Laki-laki lebih sering terkena dari pada wanita.
Rata-rata usia kematian adalah 26,5 pada penyakit yang diturunkan secara resesif,
dan 39,5 tahun pada penyakit yang diturunkan secara dominan.
Gejala klinis:
1. Terjadi ataksia sensorik maupun serebeller, terjadi inkoordinasi dari kedua
tungkai bawah. Mula-mula pasien sulit berdiri cepat dan berlari, kemudian
timbul kelelahan, nyeri pada tungkai, kaku setelah latihan berat. Dapat terjadi
kelemahan pada tangan setelah gangguan berjalan, kemudian bicara jadi rero,
lambat, tidak jelas dan eksposif, lengan jadi ataksik dan dapat disertai intensio
tremor. Akhirnya bicara, bernafas, menelan dan tertawa jadi tak terkoordinasi.
2. Rasa getar dan posisi dapat terganggu selanjutnya rasa raba, suhu dan nyeri
terganggu. Romberg positif
3. Reflek tendo kedua tungkai ini menghilang akibat terputusnya jaras sensorik
dari lengkung reflek
4. Refleks Babinski +
5. Sering terjadi deformitas pada kaki. Terjadi pes cavus dengan arkus plantar
yang tinggidan terjadi retraksi pada sensi jari dan fleksi sendi interphlalang
6. Nystagmus + (biasanya horisontal)
7. Peningkatan reflek rahang
8. Dapat disertai ketulian, vertigo, otik atrofi, kardiopati (pada setengah kasus).
Gejala tersebut mirip dengan penyakit degenerasi spinocerebeller yang
herediter, tetapi biasanya pada penyakit ini reflek meningkat.
Gambaran patologi
Medula spinalis tampak mengecil, kolumna posterior, traktus kortikospinalis,
dan spinocerebeller mengandung jaringan medula dan terdapat gliosis fibrosis. Sel
saraf pada kolumna Clarks dan sel saraf yang panjang dari ganglia rasiks dorsalis
terutama daerah lumbosakral berkurang. Sel Betz berkurang tetapi traktus
kortikospinalis relatif tak terganggu. Terdapat pengurangan sel-sel saraf pada sarah
otak VIII, X, XII. Hilangnya sel saraf tingkat ringan sampai sedang juga terjadi pada
nukleus dentatus dan pedunkulus sereblaris superior. Penyusutan sel Purkinye di
vermis superior dan neuron-neuron yang berhubungan dengan nukleus olivari
inferior. Otot miokardial juga mengalami degenerasi dan diganti oleh mippag dan
fibroblas.
Therapi: Therapi trial dengan Physostigmin tablet 60 mg/hari, Thyrotropin releasing
hormon, choline chloride, lecithin, 5 hidroksi triptophan dan benserazide tidak
memperoleh hasil yang memuaskan.
Strumpell Lorrain yaitu bentuk familial spastic paraplegia disertai dengan atrofi optik
dan spastisitas yang berat.
Motor system disease.
Istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan kelainan degeneratif
pada medula spinalis, batang otak, korteks motorik, yang secara klinis ditandai
2002 digitized by USU digital library 6
dengan kelemahan otot, atrofi, tanda traktus kortikospinalis pada beberapa variasi
kombinasi. Penyakit mengenai usia pertengahan dan hampir semuanya kematian
terjadi dalam 2 – 6 tahun atau lebih tergantung kasusnya.
Amytrophic lateral sclerosis
Adalah penyakit degeneratif yang progresif akibat degenerasi motor neuron di
kornu anterior medula spinalis, batang otak dan korteks serebri, dengan manifestasi
berupa kelemahan dan atrofi dari otot-otot yang dipersarafi, disertai tanda-tanda
gangguan (degenerasi) traktus kortikospinalis dan beberapa variasi lainnya.
Biasanya tanpa atau hanya sedikit gangguan sensibilitas atau serabut non motor
lainnya.
Etiologi diketahui pasti, ada dugaan penyebabya adalah suatu infeksi virus
(misalnya polio virus latent), toksin dari lingkungan (Beta methyl amino L alanine),
faktor genetik, ada hubungannya dengan lymphoma, logam berat (Pb, Mn, Co, Fe,
Zn, Hg), trauma, gangguan pada DNA, imunologi, gangguan metabolisme glutamat.
Angka kejadian diperkirakan antara 0,4-1,4 kasus tiap 100.000 populasi dengan
rata-rata menyerang dekade ke IV, V, VI, VII. Jarang pada usia kurang dari 35
tahun. Perbandingan laki-laki dan wanita berkisar antara 1,1:1 sampai 2:1. Lebih
banyak mengenai kulit putih dibandingkan kulit hitam.
Secara klinis ALS dibagi dalam beberapa tipe yaitu:
1. Progressive muscular atrophy
Pada tipe ini terjadi proses degeneratif dari motorneuron di kornu anterior
medula spinalis dengan manifestasi klinis kelemahan dan atrofi otot-otot badan
dan anggota gerak yang terlihat pada stadium awal dari penyakitnya. Lesi yang
terjadi biasanya mulai dari daerah servikal medula spinalis, dengan kelemahan,
atrofi dan fasikulasi otot-otot intrinsik tangan, walaupun bisa juga dimulai di
sembarang tempat di kornu anterior medula spinalis. Sebagai gejala awal bisa
juga dimulai dengan kelemahan dan atrofi otot-otot kaki dan paha, sedang otototot
ekstremitas atas masih baik. Kasus yang jarang, kelemahan dimulai dari
pada lengan bagian proksimal yang kemudian meluas ke distal. Pada tipe ini
traktus kortikospinalis tidak terkena, sehingga reflek tendo menurun atau negatif.
Fasikulasi otot bervariasi antara ada dan tidak. Perbandingan antara pria : wanita
yaitu 3,6 ; 1. Five years survival rate 72% bila onset kurang dari 50 tahun dan
bila 40% bila onset lebih dari 50 tahun.
2. Progressive bulbar palsy
Adalah tipe ALS dimana terjadi proses degeneratif pada inti-inti saraf otak di
batang otak, terutama bagian bawah.
Manifestasi klinis:
• Kelemahan dan atrofi dari otot-otot faring, lidah dan wajah. Pada stadium
awal akan memberikan gejala atau kesukaran untuk mengucapkan t,n,r,l
b,m,p,f, dan k,g, yang akhirnya suara penderita menjadi tidak dipahami.
Bicara sulit juga disebabkan karena spastisitas dari lidah, pharing dan
laring yang kemudian diikuti kelemahan atrofi.
• Reflek pharing menghilang dan gerakan palatum serta pita suara tidak
sempurna waktu sedang bicara. Terdapat gangguan mengunyah,
menelan, otot-otot paring tidak bisa mendorong makanan masuk ke
oesophagus, sehingga air dan makanan akan masuk ke trakhea atau
kembali lagi ke hidung. Dapat terlihat fasikulasi lidah dan jawjerk yang
positif.
2002 digitized by USU digital library 7
3. Primary lateral sclerosis
Tipe ini sangat jarang. Proses degeneratif yang terjadi di korteks cerebri
pada area Broadman’s 4 dan 6, dan terlihat proses degeneratif sekunder pada
traktus kortikospinalis. Gejala yang timbul berupa:
• Kelemahan dan spastisitas dari otot-otot badan dan anggota gerak, biasnya
dimulai pada ekstremitas bawah
• Tidak dijumpai atrofi dan fasikulasi
• Reflek regang yang meningkat dan reflek plantar ekstensor bilateral
• Hilangnya reflek superfisial tetapi tidak ada gangguan sensoris.
4. Tipe campuran
Sering dijumpai dengan gambaran klinis merupakan kombinasi dari bentuk
1,2,3. Pada pemeriksaan didapatkan adanya atrofi, fasikulasi, kelemahan
anggota gerak bawah, atas, peningkatan reflek tendon dan ekstensor plantar
positif bilateral. Selanjutnya bila inti batang otak terkena akan menyebabkan
disfagi disartri dan kelemahan otot wajah, tidak terdapat gangguan sensorik.
5. Spinal monomelic amyotrophic
Didapatkan adanya unilateral amyotrophic yang terbatas pada 1 anggota
gerak.
Kriteria ALS menurut El Escorial:
Diagnosis ALS memerlukan tanda-tanda:
1. Tanda LMN
2. Tanda UMN
3. Terdapat progresifitas dari penyakit
Subklasifikasi untuk kriteria diagnostik:
• Definite ALS:
UMN + LMN dengan 3 regio* seperti ALS yang tipikal
• Probable ALS:
UMN + LMN dengan 2 regio dengan tanda UMN dan tanda LMN
• Possible ALS:
UMN + tanda LMN dengan 1 regio atau tanda UMN dengan 2 atau 3 regio,
seperti monomelic ALS, Progressive bulbar palsy, dan Primary lateral
sclerosis.
• Suspected ALS:
LMN dengan 2 atau 3 regio seperti progressive muscular atrophy atau
sindroma motorik lain.
*Regio termasuk: batang otak, brachial, thoraks, trunk, crural.
Patologi:
Gambaran patologi dasar dari ALS yang telah lama dikenal adalah
sebagai berikut:
• Hilangnya motor neuron di kornu anterior medula spinalis dan batang otak
• Hilangnya sel Betz pada korteks serebri dan degenerasi pada traktus
kortikospinalis.
2002 digitized by USU digital library 8
Ditemukan hilangnya sel saraf pada kornu anterior medula spinalis. Sisa sel yang
bertahan bentuknya kecil dan penuh dengan lipofuchsin. Hilangnya sel diganti
dengan jaringan fibrosit dari astrosit. Sel saraf yang besar dan panjang terkena lebih
dahulu dari yang berukuran lebih kecil. Radiks anterior menjadi kecil dan kehilangan
serabut bermielinisasi besar pada saraf motorik. Otot-otot memperlihatkan
gambaran atrofi karena denervasi pada berbagai stadium. Whitehouse et all
menemukan berkurangnya reseptor muskarinik, kolinergik, glisinergik,
benzodiazepam pada medula spinalis dimana terjadi proses degenerasi pada motor
neuronnya. Degenerasi pada traktus kortikospinalis lebih sering terjadi pada bagian
bawah medula spinalis. Dengan pewarnaan lemak terlihat akumulasi makrofag
sebagai respon adanya degenerasi mielin. Terdapat hilangnya sel Betz di kortek
motorik. Serabut pada funikuli ventral dan lateral berkurang, mengakibatkan
gambaran yang pucat pada pewarnaan mielin. Mc-Menemey menginterpretasikan
bila mengenai juga bagian non-motor neuron disebut sebagai motor system disease.
Tetapi peneliti lain menganggap bahwa hal tersebut dikarenakan hilangnya kolateral
dari motor neuron pada lamina propria. Pada ALS dengan demensia terdapat
kehilangan neuron yang luas dan gliosis di premotor area terutama girus superior
frontal dan korteks inferolateral dari lobus temporal.
Diagnostik:
• Harus disingkirkan penyakit lainnya melalui pemeriksaan penunjang:
1. EMG: menunjukkan adanya fibrilasi, fasikulasi, atrofi dan denervasi,
KHST normal, kadang-kadang dijumpai adanya giant action potential
2. Biopsi otot: terdapat atrofi dari fasikulus otot bercampur dengan
fasikulus yang normal
3. Peningkatan enzim otot
4. LP: LCS normal
5. Mielografi: normal
6. MRI: terdapat peningkatan intensitas signal
Penanganan ALS:
Karena sampai sekarang etiologi masih belum jelas, belum ada pengobatan
yang tepat. Penanganan yang dapat dilakukan adalah terapi konservatif dan
fisioterapi.
Prognosa:
Pasien dapat hidup 10-15 tahun dari awitan. Bila terdapat gangguan pada
otot-otot
untuk menelan prognosanya lebih jelek.
Heredofamilial forms of progressive muscular atrophy and spastic parpaplegia
Wednig Hoffman Disease (Infantile progressive spinal muscular atrophy)
Merupakan bentuk klasik dari spinal muskular atrofi tipe herediter (Tipe I).
SMA ini ditandai dengan kelemahan akibat terkenanya seluruh otot sebelum usia 3
tahun. Diturunkan secara autosomal resesif, insiden 1:20.000 kelahiran hidup, dan
1/3 kasus sudah terlihat pada saat lahir karena kurangnya aktifitas dan adanya
deformitas. 95% dari kasus onset dimulai sebelum usia 4 bulan. Kelemahan umum,
hipotoni, sukar makan adalah gejala utama. Bila terdapat kesusahan bernapas
merupakan gejala fatal. Pasien ini umumnya bertahan sampai 6 bulan sesudah onset
dan 95% meninggal pada usia 18 bulan. Fasikulasi terlihat jelas pada lidah atau
tempat lain maupun pada pemeriksaan EMG. Secara patologis didapat kerusakan
motor neuron yang berat tetapi sel tetap ada, yang terjadi adalah pembesaran sel
2002 digitized by USU digital library 9
dan kromatolisis, atrofi radiks motorik sedang radiks sensorik normal. Pada otot
skeletal terjadi denervasi yang berat dan hampir merata.
Spinal muscular atrophy type II (infantil kronik/late infantil)
Onset relatif lambat dibanding tipe I, umumnya muncul sebelum usia 2 tahun.
Gambaran klinis: terjadinya kelemahan otot. Kira-kira 25% bayi dapat duduk tanpa
dibantu dan dapat belajar berjalan. Fasikulasi dan atrofi lidah positif tapi fasikulasi
tak ditemui pada anggota gerak. Reflek tendon menghilang. Progresifitas lambat usia
harapan hidup bervariasi dari 14-30 tahun. Skoliosis terjadi pada pasien yang tidak
difisioterapi, lebih lanjut terjadi gangguan respirasi, adanya deformitas akan
memperburuk keadaan.
Chronic proximal spinal muscular atrophy (PSMA, Wohlfart-Kugelberg-Welander
Syndorme)
Gangguan mengenai otot proksimal dari anggota gerak dan berkembang
sangat lambat. Sepertiga kasus terjadi sebelum usia 2 tahun dan 50% antara 3-18
tahun. Laki-laki lebih sering terkena, terutama pada usia remaja dan tua. Bentuk ini
diturunkan pada gen autosom resesif dan sexlinked. Kelemahan dan atrofi biasanya
terjadi secara lambat dimulai digelang panggul dan otot proksimal lengan. Biasanya
simetris sejak awal penyakit. Fasikulasi dijumpai pada setengah dari status. Bila
bagian distal dari anggota gerak terkena maka reflek tendon hilang, otot bulbar dan
traktus kortikospinalis tidak terkena, meskipun Babinski dapat muncul dan
berhubungan dengan ophthalmoplegia. Pada EMG dapat ditemukan fasikulasi
spontan dan denerval khronis, pada biopsi otot ditemukan atrofi neural dan hipertrofi
serabut dan hilangnya dan proses degenratif pada kornu anterior. Pada pemeriksaan
enzim didapatkan enzim CPK yang meninggi.
Bentuk fokal penyakit ini:
1. Scapulohumeral. Biasanya jinak tetapi dapat berkembang dengan cepat. Pada
orang dewasa kematian terjadi dalam 3 tahun oleh karena respiratory failure.
2. Scapuloperoneal. Bentuk ini terdapat pada dewasa muda dan dewasa. Atrofi
melibatkan otot scapula dan pariscapula dan bagian anterior dari tungkai.
3. Miopati okuler. Otot yang terkena adalah otot wajah dan okuler (biasanya
hanya satu otot yang terkena), terdapat pada anak dan dewasa
4. Fazio Londe. Bentuk yang paling progresif, dimulai dari usia dini, atrofi otot
yang meliputi neuron motorik bulbar sehingga terjadi kelemahan otot okuler,
wajah, faring. Kematian biasanya karena respiratory faulure.
Hereditary spatic paraplegia or diplegia
Penyakit diturunkan secara otosomal dominan, jarang resesif dan onset dapat
dimulai sejak masa kanak-kanak sampai orang tua.
Gambaran klinis:
• Timbulnya keleahan yang bersifat spastik secara gradual pada tungkai yang
mengakibatkan kesukaran berjalan
• Reflek tendon yang meningkat dengan reflek plantar ekstensor
• Sensorik dan fungsi saraf lain normal. Bila terjadi mulai kanak-kanak, kaki
jadi melengkung dan memendek dan terdapat pseudokontraktur dari otot
betis, mengakibatkan jalannya menggunakan ujung jari-jari. Kadang-kadang
lutut tampak fleksi ringan dan lengan ekstensi serta adduksi
2002 digitized by USU digital library 10
• Otot lengan terkena dalam berbagai tingkatan. Tangan jadi kaku, lemah,
bicara disartri
• Fungsi sphincter tak terganggu
• Sering bersamaan dengan nistagmus, kelemahan saraf otak, optik atrofi,
degenerasi makular pigmentasi, ataksia, epilepsi, dementia
• Gambaran patologi menunjukkan degenerasi dari traktus kortikospinalis,
penipisan dari kolumna Goll, terutama regio lumbal dan traktus
spinocerebellaris. Dilaporkan juga terdapat berkurangnya sel Betz di kornu
anterior.
Variants of familial spastic paraplegia
1. Hereditary spastic paraplegia with spinocerebellar and ocular synptoms.
Terjadi gangguan gaze. Manifestasi ataksia spinocerebellar dimulai pada
dekade 4 dan 5 dimana terjadi kelemahan tungkai, perubahan mood, tertawa
dan menangis yang patologik, disartri dan diplopia, disetesia anggota gerak,
dan terganggunya kontrol kandung kencing. Reflek tendon positif dengan
bilateral babinski. Gangguan sensorik dimulai pada ujung distal ekstremitas
2. Hereditary spastic paraplegia with ekstrapiramidal symptoms.
Terdapat tremor saat istirahat dan bekerja, rigiditas parkinson, gerakan lidah
yang distonia dan gerakan athetoid dari anggota gerak.
3. Hereditary spastic paraplegia with optic atrophy (Behr syndrome)
4. Hereditary spastic paraplegia with retinal degeneration. (Kjellin syndrome).
Paraplegi spastik dengan amiotrophy, oligophrenia dan degenerasi retina
sentral. Bila terdapat ophtalmoplegi disebut Barnard Scholz syndrome
5. Hereditary spastic paraplegia with mental retardation or dementia
6. Hereditary spastic paraplegia with polyneuropathy
Penyakit yang oleh De Jong juga dimasukkan dalam penyakit degeneratif
yaitu:
1. Tabes dorsalis
Penyakit ini merupakan suatu bentuk neurosiphilis yang secara patologis
ditandai dengan terjadinya degenerasi pada radiks posterior dan kolumna
dorsalis medula spinalis. Keadaan ini merupakan 1,3 – 5% dari penderita
neurosiphilis. Gejala klinis timbul sesudah lebih dari 10 sampai 20 tahun
infeksi primer, sehingga umumnya penderita Tabes dorsalis berumur 40-60
tahun.
Gejala klinis:
• Hilangnya sensasi proprioseptif mengakibatkan ataksia sensoris
(sekunder terhadap kerusakan funikulus dorsalis)
• Terkenanya radiks posterior dan ganglion dorsalis menyebabkan nyeri
radiks, rasa terikat, penurunan reflek dan terlambatnya reaksi nyeri
• Dapat terjadi gangguan fungsi kandung kemih tipe atonik,
inkontinentia alvi, impotens, gangguan tropik dengan akibat timbulnya
lesi ulseratif dan atropati tip charchot.
2. Multipel sklerosis
Merupakan penyakit yang dapat menyerang secara luas sistem saraf pusat
danbelum diketahui dengan jelas sebabnya. Penyakit ini ditandai dengan
bercak-bercak demielinisasi yang tersebar terutamapada masa putih. Bercak
ini pada tingkat lanjut berupa bercak sklerotik yang tersebar perivaskuler.
Angka kejadian sklerosis ditemukan sangat tinggi di Eropa Barat, dapat
mencapai 80/100.000 penduduk. Umumnya serangan pertama terjadi pada
2002 digitized by USU digital library 11
umur muda 20-40 tahun, kadang-kadang umur 12-15 tahun. Laki-laki lebih
sering dari wanita. Keadaan ini pada 60-90% penderita diikuti gejala remisis
dan relaps.
Gejala klinis:
• Neuromielitis optika, selain adanya neuritis optika (biasanya unilateral
45%) juga disertai adanya mielopati yang progresif disertai nyeri dan
parestesi
• Terdapat 3 bentuk spinal dari multipel sklerosis:
1. Bentuk spinal dengan gejala paraplegia spastik yang progresif
2. Bentuk dengan lesi spinal unilateral sehingga gejala klinis dapat
berupa gejala brownn sequard yang parsial
3. Bentuk sakral. Bercak lesi terdapat di konus sehingga terdapat
gejala konus. Lesi medula spinalis dapat berupa mielitis tranversa
atau ascending.
• Gejala motorik umumnya terdapat kelemahan otot tanpa atrofi
(spastik parese), bila ditemukan atrofi umumnya hanya pada otot
kecil tangan.
• Reflek regang meningkat, hilangnya reflek superfisial, gangguan
piramidal disertai gangguan proprioseptif dan ataksi sensorik.
• Gejala Lhermitte yang positif danbermacam gejala sensibilitas
• Kontrol spincter sering terganggu
• Pada 70% penderita terdapat gejala nistagmus, tremor intension dan
bicara meletup-letup dan disebut sindroma charcot.
Gambaran patologi: terjadi gliosis dan demielinisasi pada fasikulus grasilis
dan juga atrofi dari ganglion. Terjadi perivascular lymphocytic cuffing dan
dapat terjadi iskemi sekunder yang menyebabkan gangguan proprioseptif dan
kelemahan yang progresif dari ekstremitas bawah.
3. Posterolateral sklerosis
Ditandai dengan perubahan patologis yang mengenai terutama kolumna
lateral (jaras piramidal) dan funikulus posterior.
Gambaran klinis ditandai dengan kelemahan dan hiperrefleksi akibat
terganggunya traktus piramidalis, hilangnya sensasi propioseptif dengan
ataksia sensoris, dapat terjadi gangguan otonomik dari kandung kencing dan
rektum dan impotensi.
Penyakit tersebut diatas sering berhubungan dengan anemi pernisiosa,
gangguan defisiensi lain seperti pellagra, DM, ketuaan, multipel sklerosis.
Contoh penyakit yang terkenal adalah subacute combined degeneration dan
Mieloneuropati tropika (yang terdiri atas tropikal ataksi neuropati dan tropikal
spastik paraparese)
a. Subacute combined degeneration
Terjadi pada ± 16% pasien dengan defisiensi vitamin B12.
Patologi: Kekurangan vitamin B12 akan mengganggu melalui siklus
Krebs sehingga terbentuk asam lemak yang tidak normal dan
mengganggu pembentukan mielin.
Gejala klinis:
• Parestesi dimulai dari bagian distal ke proksimal dengan
distribusi simetris pada keempat anggota gerak
• Terdapat parese yang spastik akibat gangguan traktus
kortikospinalis
• Reflek tendon bisa menurun atau meningkat, reflek patologis
positif (50%)
2002 digitized by USU digital library 12
• Dapat terjadi disfungsi kandung kemih, gangguan mental dan
visual
b. Mieloneuropati tropika dibagi atas 2 grup:
1. Tropikal ataksi neuropati dengan gejala utama sensori
ataksia
2. Tropikal spastik paraparese dengan predominan spastik
paraplegi dengan minimal defisit neurologi
Etilogi mieloneuropati tropika: defisiensi Vitamin B12,
keracunan cassava, viral, pemakaian daun Lathyrus.
1. Tropikal ataksi neuropati
Faktor predisposisi adalah kehamilan, laktasi, penyakit malnutrisi.
Gejala klinis dimulai dengan parestesi bagian distal tungkai,
disertai baal, gangguan sensorik pada kolumna posterior,
perubahan tonus otot, gait ataksia, bilateral optik atrofi (hilangnya
visus), tuli perseptif dan gejala LMN.
2. Tropikal spastik paraparese
Gangguan terutama adalah terkenanya traktus piramidalis dan
dapat pula mengenai kolumna posterior. Predominan dapat
mengenai lumbal mengakibatkan gangguan berjalan, jalan jadi
lemah dan kaku, lebih dari setengahnya asimetris, hiperrefleksi
dan babinski bilateral. Perjalanan penyakit berlangsung subakut
sampai kronis. Dapat timbul defisit sensorik terutama nyeri dan
suhu dengan segmental tidak jelas.
Menurut penelitian dapat terjadi pada infeksi Human-TLimphotropic
Virus Tipe I dan terjadi mielopati yang bersifat
khronis progresif. Angka kejadian yaitu 1/250 penderita HTLV-1.
Gambaran patologi: terjadi degenerasi dan demielinisasi yang
mengenai traktus piramidalis, dpinicerebeller, spinothlamikus.
Terjadi penebalan hyelinoid dari tunika adventitta dan media
pembuluh darah otak, medula spinalis dan ruang subrahnois
dimana pembuluh darah tampak dikelilingi lekosit, astrosit gliosis
dan makrofag dan terjadi vakuolisasi di pinggir dari lesi.
4. Siringomieli
Merupakan suatu penyakit dimana terjadi perubahan patologik yang terdiri
dari gliosis, nekrosis dan kavitasi pada bagian sentral medula spinalis dan
sering meluas ke medula ( siringobulbi). Sering terjadi dengan kelainan
perkembangan dan gangguan pembuluh darah yang mengakibatkan
insufisiensi vaskuler pada area yang terkena. Dapat terjadi pada trauma,
kompresi, lesi ekstrameduler, post infeksi yang dapat dibedakan dari
siringomieli. Degenerasi terjadi pada pelebaran servikal dan dimulai paad
regio ireguler. Kanalnya sendiri tidak selalu ikut dengan proses. Onset dapat
terjadi pada usia 25-40 tahun, dapat terjadi beberapa bulan sampai 20 tahun
sesudah terjadinya trauma, 15 tahun setelah arakhnoiditid TBC.
Gejala klinis:
• Dengan terkenanya jaras dekusatio sensorik gambaran utamanya
adalah hilangnya rasa nyeri dan suhu pada dermatom tersebut
sedangkan rasa raba masih baik.
• Bila proses sudah mengenai bagian kornu anterior akan terjadi parese
fokal, atrofi dan fasikulasi juga terganggunya kolumna intermedilateral
dengan akibat terganggunya sistem otonom
2002 digitized by USU digital library 13
• Selanjutnya dapat terjadi penekanan jaras kortikospinalis dengan
parese tipe UMN dan terputusnya jaras spinotalamikus lateral dengan
akibat gangguan tropik.
Penutup
Telah dibicarakan penyakit degeneratif pada medula spinalis, dimana
umumnya terjadi proses kemunduran fungsi sel neuron yang penyebabnya tidak
diketahui. Dengan berkembangnya ilmu telah ditemukan penyebab suatu penyakit
sehingga ada beberapa yang tidak dimasukkan ke dalam penyakit degeneratif
kembali.
Penyakit degeneratif umumnya berjalan kronik progresif dan therapi yang
memuaskan belum didapat.

mielopati

Mielopatia Spondilotik Servikal

Timbulnya spastisitas tungkai secara perlahan adalah
bentuk onset yang paling sering, diketahui pertama-tama
bisa berupa kelambatan atau kekakuan dalam berjalan.
Kelemahan kurang parah bila dibanding peninggian tonus
dan peninggian refleks dalam. Lebih dari duapertiga
mengalami gangguan sensori, namun kecuali mielopati
memburuk, jarang mencapai tingkat yang jelas, dan
sering terjadi pada torasik sebelah atas dari pada
servikal; defisit lain adalah jenis radikuler, dan
terkadang dijumpai kelainan yang menyerupai siringo-
mielia. Banyak yang mengeluh nyeri dan kaku leher,
dengan kekakuan tangan serta parestesia pada osteofit
C3/4.
Perburukan mendadak mielopati servikal, atau
bahkan tampilnya sindroma kord spinal mendadak untuk
pertama kalinya, mungkin timbul setelah trauma. Cedera
hiperekstensi yang tidak cukup untuk menyebabkan
fraktura atau dislokasi adalah yang paling bertanggung-
jawab untuk mempresipitasi lesi spinal transversa pada
pasien dengan spondilosis servikal, bahkan walau tetap
asimtomatis. Tergelincir atau jatuh pada kepala (dengan
akibat abrasi frontal) adalah mekanisme yang umum, tapi
juga hiperekstensi pada saat tindakan bedah seperti
tonsilektomi, bronkhoskopi dan esofagoskopi; bahkan
manipulasi untuk memasang pipa endotrakheal oleh ahli
anestesi dapat membahayakan kord, terutama ketika semua
spasme otot protektif dihilangkan oleh obat relaksan.
Sindroma kord sentral yang terjadi menimbulkan lesi
neuron motor bawah pada tangan serta spastisitas
tungkai. Setelah berjalan 18 bulan, sekitar 50 %
membaik.
Sebelum meyakini simtom kord spinal sebagai akibat
spondilosis, sangat penting untuk menyingkirkan semua
keadaan yang dapat ditindakseperti tumor kord spinal,
kombinasi subakuta degenerasi dan neurosifilis; juga
membedakan degenerasi primer seperti kelainan neuron
motor dan sklerosis berganda, yang memiliki prognosis
yang kurang baik dibanding mielopati spondilotik dan
tidak dapat ditolong dengan operasi. Dengan mengingat
frekuensi dimana perubahan radiologis terjadi, terdapat
bahaya adanya spondilosis pada kelainan kord servikal
yang pertama kali muncul diusia pertengahan.


Tindakan
Riwayat sebenarnya, tidak akan mengarahkan perjalanan,
biasanya lambat. Sekali gejala tampil, dekompresi bedah
harus dipertimbangkan, baik mewlalui jalur anterior
maupun posterior. Pada pendekatan anterior dilakukan
pengangkatan disk bersangkutan bersama dengan batang
osteofit. Dekompresi harus diperluas kelateral yaitu
keproksimal kanal akar. Pasak tulang allograf atau
tulang yang disterilkan dengan cara radiasi serta
diliofilisasi dipakai menggantikan lubang jaringan
dengan ukuran yang sama, mengisi badan ruas tulang
belakang berseberangan dan disk yang berdegenerasi
diantaranya (operasi Cloward). Ini bisa dilakukan pada
dua atau tiga tingkat bila diperlukan. Terkadang
fiksasi anterior tambahan dengan memakai pelat metal
diperlukan. Dengan seleksi yang teliti, 70-80 % pasien
membaik.

Rabu, 02 September 2009

keperawatan jiwa

PEDOMAN PROSES KEPERAWATAN UNTUK DX. KEPERAWATAN
HARGA DIRI RENDAH
RENCANA KEPERAWATAN
Nama Klien :
No.Register :
Ruang :


TGL NO DIAGNOSA P E R E N C A N A A N I N T E R V E N S I
DX KEPERAWATAN T U J U A N KRITERIA EVALUASI
1 2 3 4 5 6
Harga diri rendah TUM:
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
TUK 1:
Klien dapat membina hubungan saling percaya.



1.1. Ekspresi wajah bersahabat, menunjuk rasa
senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, klien mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi.




1.1.1 Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik:
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal.
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
g. Beri perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien.
TUK 2:
Klien dapat mengindentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 2.1 Klien mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki :
 Kemampuan yang dimiliki klien
 Aspek positif keluarga
 Aspek positif lingkungan yang dimiliki klien. 2.1.1.Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
2.1.2.Setiap bertemu klien dihindarkan dari memberi penilaian negatif.
2.1.3.Utamakan memberi pujian yang realistik.
TUK 3:
Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan. 3.1 Klien menilai kemampuan yang dapat digunakan.
3.1.1 Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit.
3.1.2. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaan.



TUK 4:
Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki 4.1 Klien membuat rencana kegiatan harian. 4.1.1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan:
• Kegiatan mandiri
• Kegiatan dengan bantuan sebagian
• Kegiatan yang membutuhkan bantuan total.
4.1.2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
4.1.3.Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.

TUK 5:
Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya. 5.1 Klien melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.
5.1.1. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
5.1.2. Beri pujian atas keberhasilan klien
5.1.3.Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah.

TUK 6 :
Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada. 6.1 Klien memanfaatkan sistem pendukung yang ada di keluarga.
6.1.1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.
6.1.2.Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.
6.1.3.Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.